Tuesday, January 22

Selamat Tahun Baru 2013!




















Tidak selalu perlu resolusi atau cita-cita baru.
Tapi semoga tahun ini dimulai dengan semangat dan sikap yang baru!

Monday, February 6

GOD LOVES YOU!

Me       : God, can I ask You a question?
GOD    : Sure
Me       : Promise You won't get mad ...
GOD    : I promise...
Me       : Why did You let so much stuff happen to me today?
GOD    : What do u mean?
Me       : Well, I woke up late
GOD    : Yes
Me       : My car took forever to start
GOD    : Okay
Me       : at lunch they made my sandwich wrong & I had to wait
GOD    : Huummm
Me       : On the way home, my phone went DEAD, just as I picked up a call
GOD    : All right
Me       : And on top of it all, when I got home ~I just want to soak my feet in my new foot massager & relax. BUT it wouldn't work!!! Nothing went right today! Why did You do that?
GOD   : Let me see, the death angel was at your bed this morning & I had to send one of My Angels to battle him for your life. I let you sleep through that
Me      : OH (humbled)
GOD   : I didn't let your car start because there was a drunk driver on your route that would have hit you if you were on the road.
Me      : (ashamed)
GOD   : The first person who made your sandwich today was sick & I didn't want you to catch what they have, I knew you couldn't afford to miss work.
Me      : Okay (embarrassed)
GOD   : Your phone went dead bcuz the person that was calling was going to give false witness about what you said on that call, I didn't even let you talk to them so you would be covered.
Me      : I see God (softly)
GOD   : Oh and that foot massager, it had a shortage that was going to throw out all of the power in your house tonight. I didn't think you wanted to be in the dark.
Me      : I'm Sorry God
GOD   : Don't be sorry, just learn to Trust Me.... in All things , the Good & the bad.
Me      : I will trust You.
GOD   : And don't doubt that My plan for your day is Always Better than your plan.
Me      : I won't God. And let me just tell you God, Thank You for Everything today.
GOD   : You're welcome, child. It was just another day being your God and I Love looking after My Children..

 #itrustyou#
#feelloved#
#spreadlove#

Monday, January 23

RAMALAN

Di hari pertama tahun Naga Air ini, nonton wawancara peramal super mahal nan kondang bin senior di  salahsatu TV swasta tentang  r-a-m-a-l-a-n  spektakuler tahun ini:
1. Tahun ini adalah tahun kesempatan.
2. Tahun ini banyak yang cari jodoh dan bisnis baru.
3. Tahun ini harus lebih kerja keras.

Hmmm...??? *bingung*
Sepertinya, kamu pun bisa jadi peramal super mahal nan kondang bin senior. Mau coba KESEMPATAN punya BISNIS BARU sebagai peramal? Kan siapa tahu JODOH? Cuma tinggal KERJA KERAS kok? ;)

#beingsilly#

Wednesday, January 18

TRUST

Lesson of the day:
Trust can never be proven; it can only be disproved.

I will learn to always choose to trust. Better to loose some people in life because they disprove your trust than having nobody around because you don't trust any.

#itrustyou#
#feelloved#
#spreadlove#

Tuesday, January 17

GRANNY'S BEST ADVICE EVER

Don't trust your eyes when you still have your ears.
Don't trust your ears when you still have your heart.

#feelloved#
#spreadlove#

Monday, January 16

L.O.V.E

If I speak in the tongues of men or of angels, but do not have love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal.
If I have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if I have a faith that can move mountains, but do not have love, I am nothing.
If I give all I possess to the poor and give over my body to hardship that I may boast, but do not have love, I gain nothing.

LOVE is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.


Love NEVER fails.
.........................
And now these three remain: faith, hope and love. But THE GREATEST of these is love.

#1Corinthians13#
#feelloved#
#spreadlove#

Saturday, January 14

CONFESSION OF A PERFECTIONIST

UGLY DUCK : Do you know who I am?
BEAUTY QUEEN : Of course I do, you're an ugly duck!
UGLY DUCK : No, I am not. I'm just a PERFECTIONIST, someone who can make you look and feel perfect! :)

#beingsilly#
#anotherwaytoseethings#

WHAT HAPPENS

YOUNG SHEEP : Why bad things always happens to good sheeps?
OLD SHEEP : Perhaps it's to keep them safe from the worse things that might happen to bad sheeps!??
YOUNG SHEEP : Owh...Ok...I'll be a good sheep then!

#innocent#
#thegoodsheep#

PRAYER OF A GRATEFUL PREY

Thank God for the pre-dator today, so that we know what to do when a dator really comes!

#beingsilly#
#thereisalwayssomethingtobegratefulfor#


Thursday, January 12

THANK YOU, GOD!

Sunday, December 11, 2011 at 2:21pm

Thank you, God!
You have no facebook but we’re friends forever
You have no twitter but You follow me all the time
You have no camera but You capture my every moment
You have no phone but you always call me
You have no Blackberry but You often ping! my heart
You have no Apple but you dropbox me your blessing every second!!!

LEBAR

Friday, July 29, 2011 at 6:01pm

Tidak ada yang istimewa dengan kata L-E-B-A-R. Tidak berkonotasi negatif ataupun positif. Tapi sekarang kata itu terasa "berbeda" setiap kali aku mendengarnya :)))

Pagi itu aku memakai gaun terusanku yang baru. Semakin merasa cantik dengan sepatu putihku yang juga baru. Percaya diripun membanjiri aliran darah dan memenuhi nafasku untuk pekerjaan kali ini yang harus dimulai begitu dini. Masih sedikit mengantuk karena saya bukan (dan sepertinya tidak akan pernah jadi) morning person. Tapi perasaan positif berhasil membantuku melewati pagi sampai akhirnya pekerjaan hari itu sebagai MC di sebuah acara perempuan-perempuan Jakarta selesai tepat pada waktu makan siang.

Akupun berbaur dengan peserta dan penyelenggara saat makan siang. Salah seorang perempuan mendekatiku.
"Hi mbak Pinky, aku liat-liat dari tadi mbak Pinky mukanya makin lebar ya?"
"Hi juga, oya? lebar???? hehehe maksudnya? (aku masih sedikit bingung untuk langsung berkesimpulan, maklum setiap harinya otakku baru lebih bisa mencerna setelah selesai jam makan siang) Maksudnya gendutan kali ya?
"Iya, itu maksudnya...bener gendutan ya mbak Pinky?
"Ohhhh, mendingan langsung bilang gendut deh mbak daripada M-U-K-A L-E-B-A-R"

Ohhh, kejamnya ibukota! bukan sih...tapi...
Ohhh, kejamnya perempuan Jakarta! bukan juga sih...tapi...
Ohhh, kejamnya dunia basa-basi ini! *tutup muka guling-guling di lantai, susah untuk kembali merasa cantik LOL*

PNEUMONIA

Tuesday, June 14, 2011 at 1:28am

Masih seputar ilmu baru tentang Pneumonia. Para orangtua disadarkan untuk mengenali gejala penyakit yang disebabkan bakteri dan virus ini sejak dini agar tidak dikira flu, batuk, dan demam biasa pada balita. Salahsatu cara termudah mendeteksinya adalah dengan melihat tarikan nafas yang sampai mencekungkan dada dan lewat hitungan nafas per menitnya.

Usia 0-2 bulan = tidak boleh lebih dari 60 kali per menit
Usia 2 bulan - 1 tahun = tidak boleh lebih dari 50 kali per menit
Usia 1 - 5 tahun = tidak boleh lebih 40 kali per menit

Hmmmmmmmmmm...
Setiap mengingat 'dia' nafasku 101 kali per menit dan dada seolah cekung menganga. Aku menderita Pneumonia!!?? Arrrghhhhh, lagi-lagi aku lupa bertanya, berapa kali per menit untuk orang dewasa :)))

KRONIS AKUT

Tuesday, June 14, 2011 at 12:38am

Hah!!! Membutuhkan 33 tahun untuk aku mengerti kata KRONIS dan AKUT bahwa artinya TIDAK SAMA dengan PARAH! Satu rentang waktu yang bahkan mengalahkan lamanya Orde Baru berkuasa. Ckckckck. Itulah efek 'sotoy' berkolaborasi dengan 'tidak begitu pintar' dicampur beberapa tetes 'gengsi bertanya' yang dimasak dengan 'malas membaca'. Untung seorang malaikat pencerah hadir dalam bentuk seorang Dr. Wahyuni dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) di sebuah senin sore. Inti obrolan sebenarnya seputar Pneumonia, penyebab no. 1 kematian anak di dunia dimana Indonesia berada di urutan ke-6.

Dari sekian banyak pengetahuan baru yang bermanfaat dari Dr. Yuni, begitu dia dipanggil untuk para orangtua agar mengenali gejala pneumonia, perbedaan pengerrtian akut dan kronis yang paling menempel di kepala.

AKUT : (terjadi dengan) cepat dan mendadak.
KRONIS : (terjadi dengan) pelan-pelan.

Hmmmmm, aku mengangguk-ngangguk dan mengerjap-ngerjap terpesona. Ohhhh, berarti yang selama ini terjadi adalah:

Jatuh cinta akut?
Mati lampu akut?
Kaya akut.
Bahkan....dangdut akut?

Lalu:
Mungkin sebaiknya rambu di jalan kecil pemukiman padat atau didepan sekolah-sekolah bertuliskan.....Harap kronis, banyak anak-anak?

Dan aku, menua kronis??? Haha

Sekedar pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Dr. Yuni :p

IT'S OK

(Tuesday, May 31, 2011 at 8:33pm)

It's ok if you sometimes cry, so you see who offer you smile
It's ok if you sometimes feel stupid, so you learn something new
It's ok if you sometimes make mistakes, so you know who forgive you
It's ok if you sometimes get lost, so you meet those who sincerely show you the way
It's ok if you sometimes don't know what you want, so you let life shows you what you need
It's ok...
Everything will be beautiful in its time

THE ROYAL WEDDING HOMILY

Sunday, May 1, 2011 at 1:45pm

Saat semua orang memperhatikan desain topi-topi spektakuler apa dipakai siapa,baju buatan mana, dan sebagainya. Saya justru tidak bisa diganggu saat mendengarkan khotbah perkawinan untuk pasangan abad ini Prince William-Kate Middleton saat upacara perkawinan mereka di gereja Westminter Abbey pada hari Jumat tanggal 29 April 2001 lalu. Salahsatu nasehat perkawinan dan membangun keluarga TERBAIK dan TERINDAH yang pernah saya dengar!!! Entah berapa banyak yang benar-benar menyimaknya (dan benar-benar berjanji menerapkannya dengan segenap kekuatannya?). Ummmm, saya sudah lebih bijaksana atau sekedar tua, ya? haha

The Royal Wedding homily, given by Dr. Richard Chartres, Anglican Bishop of London:

Dearly Beloved...

"Be who God meant you to be and you will set the world on fire.” So said St Catherine of Siena whose festival day it is today. Marriage is intended to be a way in which man and woman help each other to become what God meant each one to be, their deepest and truest selves.

Many are full of fear for the future of the prospects of our world but the message of the celebrations in this country and far beyond its shores is the right one – this is a joyful day! It is good that people in every continent are able to share in these celebrations because this is, as every wedding day should be, a day of hope.

In a sense every wedding is a royal wedding with the bride and the groom as king and queen of creation, making a new life together so that life can flow through them into the future.

William and Catherine, you have chosen to be married in the sight of a generous God who so loved the world that he gave himself to us in the person of Jesus Christ.

And in the Spirit of this generous God, husband and wife are to give themselves to each another.

A spiritual life grows as love finds its centre beyond ourselves. Faithful and committed relationships offer a door into the mystery of spiritual life in which we discover this; the more we give of self, the richer we become in soul; the more we go beyond ourselves in love, the more we become our true selves and our spiritual beauty is more fully revealed. In marriage we are seeking to bring one another into fuller life.

It is of course very hard to wean ourselves away from self-centredness. And people can dream of doing such a thing but the hope should be fulfilled it is necessary a solemn decision that, whatever the difficulties, we are committed to the way of generous love.

You have both made your decision today – “I will” – and by making this new relationship, you have aligned yourselves with what we believe is the way in which life is spiritually evolving, and which will lead to a creative future for the human race.

We stand looking forward to a century which is full of promise and full of peril. Human beings are confronting the question of how to use wisely a power that has been given to us through the discoveries of the last century. We shall not be converted to the promise of the future by more knowledge, but rather by an increase of loving wisdom and reverence, for life, for the earth and for one another.

Marriage should transform, as husband and wife make one another their work of art. It is possible to transform as long as we do not harbour ambitions to reform our partner. There must be no coercion if the Spirit is to flow; each must give the other space and freedom. Chaucer, the London poet, sums it up in a pithy phrase:

“Whan maistrie [mastery] comth, the God of Love anon,
Beteth his wynges, and farewell, he is gon.”

As the reality of God has faded from so many lives in the West, there has been a corresponding inflation of expectations that personal relations alone will supply meaning and happiness in life. This is to load our partner with too great a burden. We are all incomplete: we all need the love which is secure, rather than oppressive, we need mutual forgiveness, to thrive.

As we move towards our partner in love, following the example of Jesus Christ, the Holy Spirit is quickened within us and can increasingly fill our lives with light. This leads to a family life which offers the best conditions in which the next generation can practise and exchange those gifts which can overcome fear and division and incubate the coming world of the Spirit, whose fruits are love and joy and peace.

I pray that all of us present and the many millions watching this ceremony and sharing in your joy today, will do everything in our power to support and uphold you in your new life. And I pray that God will bless you in the way of life that you have chosen, that way which is expressed in the prayer that you have composed together in preparation for this day:

God our Father, we thank you for our families; for the love that we share and for the joy of our marriage.

In the busyness of each day keep our eyes fixed on what is real and important in life and help us to be generous with our time and love and energy.

Strengthened by our union help us to serve and comfort those who suffer. We ask this in the Spirit of Jesus Christ. Amen.

Wednesday, November 12

GARA-GARA R. A. KARTINI

Selasa, 12 November 2008
05.17
*Dedicated to Beta, Qonita, and Iriel. Thanks for a wonderful chat at Sushi time*

LOGIKA dengan antusias menceritakan kisah cinta temannya yang sudah pacaran 10 tahun ternyata menikah hanya untuk 3 minggu.

REALITA membalas, bahwa dia juga punya teman yang menikah dengan sahabatnya sendiri yang telah dikenal bertahun-tahun tapi hanya sanggup bertahan dalam "bahtera" itu dalam hitungan bulan, tuh.

KEINGINAN tak kalah seru, ia sempat iri dengan kehidupan temannya yang terus terlihat bahagia karena memiliki segala yang diimpikan hampir semua wanita: perkawinan dengan suami ganteng dan mapan, anak yang lucu-lucu, belum lagi ukuran badan dan penampilan sang teman yang bahkan masih bisa mengalahkan pasaran perempuan-perempuan lajang ibukota. Tapi rasa iri itu berubah jadi sebuah diam, saat dia mendengarkan pengakuan sang teman yang terus berdandan hanya untuk menutupi ketidakbahagiaan dalam perkawinan. Bahwa sang teman pada akhirnya menyerah dengan semuanya dan....bercerai.

KATA HATI dan INSTING hanya mendengarkan dengan mata mengerjap-ngerjap sembari menyeruput minuman panas milik masing-masing dalam obrolan lebih panas di tengah Jakarta yang sangat panas.

REALITA:
Gue nggak ngerti. kenapa ribet banget sih kayaknya "marriage life" hari gini? Percuma pacaran lama tapi nggak jaminan. Kenal lama sebelumnya juga nggak ngasih jawaban. Apalagi ama yang baru kenal 1 bulan? Sepertinya itu bunuh diri pelan-pelan. Kok ngga kayak jaman emak-emak kita dulu ya?

LOGIKA:
Iya. Ngga tau, ya. Apa karena dulu tujuan akhir dari setiap perempuan memang cuma ampe jadi istri dan punya anak aja ya? Karena itu urusan bibit bebet bobot juga jadi penentu paling dahsyat. Namanya juga tujuan akhir. Coba tanya emak-emak kita. Mereka udah sangat bersyukur ngeliat kita anak-anak mereka selesai sekolah, dapet kerjaan, dan berharap-cenderung panik- kita buruan nikah untuk nanti bisa kasih cucu ke mereka. Se-simple itu. Itu keinginan terakhir mereka. Ngeliat cucu. Jadi ya, mereka punya kecenderungan untuk mengabdi kemanapun suami-suami mereka a.k.a bokap-bokap kita ngebawa mereka dalam hidup ini. Dan itu ngebuat emak-emak kita pun sanggup bertahan dalam kondisi apapun demi keutuhan keluarga. Kan tujuan akhir? Mau ngapain lagi? Ditambah lagi, perceraian dalam budaya masa-masa itu aib yang nggak akan bisa diterima oleh keluarga.

KATA HATI pun menambahkan:
Iya ya. Sementara perempuan-perempuan sekarang? Menikah bukan tujuan akhir, ya? Menikah itu salah satu event dalam hidup lu. Apalagi pereu-pereu kayak lu, kayak kita, kali? Lu pasti punya tujuan hidup independent buat diri lu sendiri mau ngapain di dunia ini, kan? Karenanya, mungkin itu yang bikin jadi lebih susah untuk nemuin orang yang tepat searah ama tujuan lu itu. Belum lagi urusan speed-nya lah, power-nya lah, endurance-nya lah kalo mau sejajar di track yang sama. Ya nggak? Sekarang lu aja bisa berantem untuk urusan pengen punya rumah di tengah ato mending di pinggir kota Jakarta? Ato urusan anak harusnya sekolah dimana? Apalagi ikutan mengabdi ama suami lu di pedalaman Papua? Buntut-buntutnya dalam itungan bulan baru deh ngerasa "beda prinsip".

REALITA:
Lagian kan hari begini cerai udah biasa, ya? Nggak malu-maluin amat. MBA aja udah bukan aib, kok...

INSTING akhirnya ikut bicara:
Mungkin, apa karena itu ya? Kok kalo gue perhatiin, temen-temen kita yang hidupnya lebih "lurus" dan nggak neko-neko punya tujuan hidup independent yang aneh-aneh segala, jadi lebih mudah dapat pasangan, ya?

KEINGINAN:
Ato intinya karena mereka nggak lebih cerewet aja kayak lu, kayak kita kali? Ato gue doang?

LOGIKA:
KATA HATI, tumben lu tau arah omongan gw? Jadi intinya sih, gue cuma mau bilang kalo kayaknya ini semua salahnya R. A. Kartini. Dia yang bikin kita perempuan-perempuan di jaman ini jadi lebih susah cari calon suami. Semacam mengajak-ajak makan Apple of Knowledge. Dan kita 'kemakan'.

Huahauahuahuaa. Lima sahabat itu tergelak di tengah salah satu dari sekian banyak obrolan makan malam yang menyenangkan. Mereka selalu bersama meskipun saling berbeda. LOGIKA si supel yang memang paling bisa mencari-cari yang bisa disalahkan dalam segala situasi dengan cara bercanda sarkastis-nya. KEINGINAN yang ukuran tubuhnya paling besar, paling sukar ditebak karena seleranya suka berubah-ubah. INSTING yang cukup ringkih kadang suka kasih peringatan meskipun kadang juga suka gampang terpengaruh KEINGINAN. Kalo udah begini, KATA HATI yang selalu netral akan berusaha menengahi. Sayangnya ia susah ditemui. Sementara REALITA si gaul yang tak pernah ketinggalan di setiap kesempatan, suka sekali mengaburkan semuanya kembali.

Mungkin itulah yang membuat mereka sanggup bertahan untuk bersahabat cukup lama.

PERAWAN TUA

Rabu, 12 November 2008
03.30
*Dedicated to my lovely friend, Beta and all my “old virgin” friends in Jakarta. Hihi ;p*

Lima matahari sedang menyengat kota Surabaya siang itu. Serasa menghabiskan wiken di Afrika dengan kesibukan ala New York. Temanku, sebut saja namanya Bunga (Red: bukan nama sebenarnya, tapi konon nasibnya selalu nyaris jatuh seperti nasib Bunga-Bunga lain dalam tayangan Reka Ulang di TV) harus meninggalkan Jakarta demi bekerja di sana di sebuah akhir minggu.

Badan pegal-pegal pun mulai mengirimkan sinyal untuk membuat Bunga harus mencari pertolongan tukang pijet. Setelah tanya sana tanya sini, seorang rekan kerja dari tim kerja lain yang cukup terpercaya dan konon mengenal Surabaya cukup baik pun dengan yakin dan mantabhhh merekomendasikan seorang tukang pijet bernama….*Tatataaaaaaaaa!!!! Harus pake efek ini, Cinkkk*….Mas Toyib!!!

Ada yang aneh…It’s supposed to be Bang Toyib…dan itu bukannya tidak terpisahkan? Tidak boleh menggunakan kata sapaan lain. Nggak klop. Well, nggak penting juga. Keanehan nama itu tidak cukup mengganggu untuk keinginan pijat yang menggelora.

Hingga terdengarlah ketukan di pintu kamar hotel tempat Bunga dan rekan sekerjanya dari Jakarta menginap. Teman sekamar yang membukakan pintu terkaget-kaget. Karena tubuh kekar ala Ade Ray berbalut kaos pas badan berdiri sopan di depan pintu. Tampang “ganteng jawa” dengan kulit sawo matang itu melempar tersenyum tipis. Siapa yang pesen gigolo?

Toyib : Siang…mbak yang mau pijet?
Bunga : Eh oh..eh…Mas Toyib, ya?
Toyib : Iya…mau pijet kan, Mbak?
Bunga : Ah..Eh..Umm…Iya...

Teman sekamar Bunga cuma bisa bengong. Bunga dengan gaya kikuk dan ribetnya menyongsong ke pintu. Ketemu satpam ganteng aja dia bisa hampir lemes dan ngomong beribet, apalagi tukang pijet seganteng ini yang akan menyentuh seluruh syaraf kaki dan punggung dan kepalanya? Ow ow ow…kayaknya ga jadi pijet punggung dan kepala deh. Daripada terjadi hal-hal yang diinginkan? (Baca:diidam-idamkan). Keanehan untuk ukuran figur tukang pijet ini pun sudah tidak sanggup menahan gejolak keinginan untuk merasakan tekanan-tekanan di titik-titik syaraf yang begitu lelah. Meskipun dengan figur begini, urusan pijet jadi “kentang” alias kena tanggung, karena-tidak memungkinkan-untuk pijet seluruh badan.

Sesi pijet dimulai. Silahkan bayangkan apa yang terkesan, seandainya mendengar percakapan Tukang Pijat-TP dan korban (ato Klien Pijet-KP dan korban?) dari balik pintu bilik kecil itu. *Hweeee, bilik???? Biar lebih terasa seperti narasi adegan Reka Ulang aja, sih. Hehe*

TP : Sampe atas, Mbak?
KP : Ummhhh…bawah aja.
TP : Balik badan ya Mbak, sekarang dari belakang.
KP : Oh eh...depan aja ah, Mas.

Bunga terlalu panik untuk membiarkan jemari besar-besar itu melewati punggung dan pundaknya dari belakang tanpa dia bisa mengendalikan pergerakan ataupun menyelidiki ekspresi Mas Toyib. Tapi akhirnya Bunga tetap harus balik badan untuk bisa dipijet betisnya. Daripada tetap berhadapan tapi maksain pijet betis? Pasti harus dengan posisi lain yang jauh lebih spektakuler. Haha.

Sesi pijet dilanjutkan. Obrolan lain mulai mengalir. Seiring dengan mengalirnya peredaran darah di sepanjang kaki yang melegakan. Tapi kok malah menimbulkan… pegal pikiran!!!???

Mas Toyib : Mbak, aku tuh lagi kumpulin duit buat kawinin pacar aku di kampung…
Bunga : Ohya? Bagus dong…
Mas Toyib : Iya, tapi susah.
Bunga : Iya sih ekonomi memang lagi susah, tapi usaha terus aja. Pasti ada jalannya.
Mas Toyib : Bukan susah itu, Mbak. Pacar aku nya yang susah. Kasihan, dia nggak bisa kawin sama aku sebelum kakak
perempuannya kawin.
Bunga : Owh…emang kakak pacarnya Mas udah umur berapa?
Mas Toyib : 23 taun, Mbak.
Bunga : *Glek* Pacar Mas?
Mas Toyib : Udah 16 taun, Mbak.
*Dengan nada penyesalan seolah-olah itu adalah 36 tahun *
Kesian juga sih sama kakaknya itu. Kalo udah perawan tua begitu, udah bakal susah banget dapat suami.
*Dengan nada prihatin seolah-olah itu adalah 43 tahun*
Dan aku juga jadi nggak bisa-bisa kawinin pacar aku.
Bunga : *Glek glek*

Bunga refleks berbalik dari posisi tengkurapnya untuk melihat wajah Bang eh Mas Toyib. Ada raut kesungguhan di sana. Tapi kata PERAWAN TUA untuk usia 23 tahun terdengar begitu menyengat dengan pancaran sinar 10 matahari. Apakah ini masih di Surabaya? Pulau Jawa? Indonesia? Planet Bumi? *Glek glek glek*

Perempuan usia 30 tahun di Jakarta dengan karir cemerlang sekalipun seperti Bunga, tapi nggak punya pacar apalagi belum menikah pasti membuat miris orang-orang kampung halaman Mas Toyib. Dan segelintir perempuan seperti itu di kampung halamannya bahkan mungkin ada yang sudah di hukum rajam karena dikira dukun guna-guna pemakan melati yang menikah dengan mahluk alam lain jadi tidak boleh bersuamikan manusia. Atau bahkan diduga akan melakukan kejahatan mutilasi karenanya harus dibasmi sebelum benar-benar terjadi?

Owhhh, pijet yang benar-benar "kentang". Kali ini, kena tangparrrrr.

So, can we blame Syekh Pudji? Gadis 12 taun yg dikawini-nya itu pasti membuat sirik para perempuan satu kampung yang baru belajar pake miniset itu…. krn dia sangattttt beruntung. Wait, miniset??? Masih eksis ga sih? Ahhh, aku (perawan?) tuaaaaaa….jerit Bunga dalam hati.

Monday, October 20

LOMO

Senin, 20 Oktober 2008
15.55

CafĂ© cukup mewah di sebuah mall baru sore itu diisi dengan pembicaraan (baca: curhat) 3 perempuan tentang kisah (pencarian) cintanya masing-masing. Tiga gelas black coffee di meja teraduk dengan komentar slash kupas tuntas tipikal perempuan-perempuan metropolitan seperti buku Why Men Marry Bitches, film seri Sex and The City, email seorang teman tentang Petunjuk Mencari Suami Yang Baik, pengalaman orang-orang sekitar tentang What Was Their Reason To Get Married?, plus diberi “topping” www.lovecalculator.com yang dengan ajaib bisa menghitung kadar kecocokan hubungan seseorang lewat memasukkan namamu dengan nama (calon) pasangan (idaman) mu.

Perhitungan nama berlangsung dengan cukup heboh. Karena dari skala sedikit sampai skala setengah bahkan agak memaksa, nama lengkap masing-masing dikurangkan atau ditambahkan nama keluarga-nama tengah-nama beken-nama panggilan agar mungkin saja akan memberikan prosentase yang menyenangkan mata dan menyejukkan hati. Oops, nggak ngefek. Prosentase yang terlihat selalu saja di bawah 50%. Bahkan untuk beberapa nama, sudah dikurangkan dan dilebihkan bagaimana pun tetap memberikan nilai 01%. Di tengah perhitungan ala Dr. Love itu, tepatnya saat daftar nama-nama yang ingin diisikan di kolom kosong itu semakin berkurang, tiba-tiba salah seorang temanku membicarakan tentang hasrat barunya untuk memiliki kamera LOMO. Dan dia bisa menjelaskan panjang lebar dengan mata berbinar tentang kamera ini.

LOMO adalah sebuah kamera buatan Rusia yang tadinya dibuat untuk kebutuhan perang. Bentuknya tidak elegan dan bukan terbuat dari bahan yang mahal. Hanya berbahan plastik dan nggak “slim”. Seseorang yang menenteng kamera Lomo pastinya tidak terlihat sekeren orang-orang yang menenteng kamera mahal lainnya. Ditambah karena hasil foto yang selalu cacat dari jepretan kamera ini, tentu saja tidak menarik bagi para fotografer berkelas tadinya, dan dengan begitu tentu saja tidak menjadi rekomendasi bagi para orang kebanyakan. Setiap kamera Lomo memiliki kecacatan tersendiri terhadap hasil jepretannya. Semacam signature dan keunikan yang personal dari tiap kamera.

Tapi berkat seseorang, yang temanku lupa namanya, ia bilang akhirnya kecacatan hasil jepretan kamera Lomo ini berhasil diinterpretasikan sebagai karya seni yang unik. Dan entah karena orang-orang ingin dianggap berjiwa seni dan memiliki jiwa kreatif, atau pada dasarnya mata mereka semakin terbuka akan nilai seni dan keunikan dari kecacatan hasil kamera Lomo, kini akhirnya semua orang pun tertarik ingin memiliki kamera tersebut. Memiliki kamera ini pun akhirnya menunjukkan identitas tersendiri. Sebuah taste yang belum tentu dimiliki orang lain. Dan untuk memilikinya pun ternyata tidak susah dan mahal. Di mulai dari harga 400 ribu rupiah seseorang bisa memiliki kamera ini. Dan yang lebih menyenangkan dari kamera ini, termasuk juga yang lebih menarik perhatianku tentang cerita kamera ini, adalah mottonya: bawa kamera ini kemana aja…and just shoot, don’t think.

So perfect, right!!!! Harganya murah, tinggal jepret enggak pake teknik, dan kalo hasilnya cacat…kan memang itu inti dari kamera ini. Kecacatan yang membuat sempurna.

Selesai menceritakan Lomo, tiba-tiba kami tertegun dan menatap satu sama lain. Sepertinya kami bertemu dalam satu titik pikiran yang sama tanpa harus membicarakannya. Tapi akhirnya kalimat itu keluar juga….”Do you think that maybe we’re like….LOMO?” hahuahuahauhauhau. Tawa meledak. Tapi dalam nada agak miris. Karena mungkin itu excuse. Tapi hey, mungkin juga itu benar. Entah. Bisa jadi, kata-kata sakti penyembuh hati selama ini “segala sesuatu indah pada waktunya” itu memang akan benar terjadi setelah ada seseorang di luar sana yang…… berhasil melihat “kecacatan” sebagai salah satu keunikan, bukan kekurangan. Atau……setelah ada seseorang di luar sana yang….do not think, just shoot me. Huahauhauhauhauahua.

Friday, September 19

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Jumat, 19 September 2008

Disuatu tengah malam yang melelahkan tapi kupaksakan untuk menemani dua orang teman makan di sebuah warung makanan jepang pinggir jalan:

“Menurut lu, apa kekurangan dan apa kelebihan lu, Pink?”

“Ummmm…kayaknya kelebihan gw, selalu berkelebihan. Dan kekurangannya, gw nggak pernah kekurangan.”

Aku menangkap tatapan si penanya yang tampak sekejap tertegun. Ini adalah pertanyaan wawancara yang direkam untuk bahan skripsinya. Temannya yang satu sudah selesai diwawancara. Tanpa rasa ingin tahu yang besar untuk bertanya apa materi skripsinya, aku juga mengiyakan saja untuk ikut diwawancara. Toh dia berjanji kalau pertanyaannya simpel-simpel saja.

Sebenernya, pikiranku juga sempet sepersekian detik terhenti dengan jawabanku sendiri barusan. Darimana datangnya jawaban itu? Itu keluar begitu saja. Tapi sepersekian detik kemudian setelah menjawab, rasanya jawaban itu memang harus dengan sangat serius aku pikirkan.

Lalu aku meneruskan lagi wawancara itu melewati beberapa pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang aku pikirkan tentang diri sendiri dan tentang hidup. Rasanya seperti mengikuti semacam tes kepribadian untuk wawancara kerja atau pemilihan putri-putrian. Tapi setelah selesai dengan semua pertanyaan itu, aku tetap tak bisa selesai memikirkan pertanyaan dan jawaban tentang kelebihan dan kekurangan itu.

Apa yang membuat tatapan si penanya tertegun? Apa yang ada di pikirannya? Dan yang paling mengganggu, darimana datangnya kalimat jawaban itu? Dari mata jatuh ke bibir??????? Karena jawaban itu tidak pernah terpikirkan apalagi sampai bisa aku ucapkan!!!

Benarkah aku berkelebihan? Benarkah aku tidak pernah berkekurangan? Kepala ini terus berputar ke masa lalu, masa sekarang, dan kemungkinan-kemungkinan masa depan sambil tetap berusaha fokus menimpali obrolan dengan teman di depanku ini. Hingga akhirnya…

“Udah biarin gw yang bayar, Pink…”
“Serius lu?”
“Iya gapapa, lagian lu cuma teh manis panas doang nemenin gue makan. And thanks buat interview-nya juga.”
“Asik, thanks ya.”

Salahsatu bukti bahwa aku berkelebihan???? Berkelebihan dengan teman-teman yang baik seperti ini dalam hidupku. Dan bukan hanya soal traktir. Berapa banyak yang sering membuat aku tertawa, ikutan senang saat aku senang, ikutan sedih saat aku sedih, ikutan marah-malah kadang dengan porsi yang jauh berlebihan dari akunya sendiri-saat aku sedang marah sama seseorang, yang memberi side job-side job tambahan, yang mengenalkan dengan teman-teman baru, yang mengajarkan permainan-permainan tolol baru, yang tiba-tiba menelpon say hello di saat aku baru saja memikirkan dan merindukan mereka, yang tiba-tiba ngasih inspirasi bahan siaran dengan curhatan mereka, atau bahkan menginspirasi jalan hidupku dengan prestasi mereka? Ya, ternyata aku berkelebihan.

Benarkah aku tak pernah berkekurangan????? Aku memikirkan ini lama sekali. Apakah masih kurang uang? kurang rumah? kurang mobil? kurang langsing? Kurang gendut? kurang mulus? kurang cantik? kurang gaya? kurang liburan? kurang gebetan? kurang panjang rambutnya? kurang prestasi? kurang pintar? kurang terkenal?

Kalaupun benar semua di atas itu statusnya kurang….thanks God, kenapa masih banyak yang mau berteman? Kalau saja aku tak kekurangan semua hal di atas itu, mungkin malah aku tak punya teman?

Wah, darimana pun datangnya kalimat itu. Aku harus berterima kasih pada yang mengucapkannya. Bukan, pastinya kalimat itu bukan dari aku.

Thanks Edric untuk pertanyaan itu dalam wawancara skripsi lu. Kalau lu ngga pernah nanya, “siapapun itu” tidak akan pernah menjawabnya. Jawaban atas semua pertanyaanku tentang penyebab lelahku malam itu. Malam dimana seharusnya aku tidak perlu lelah, begitu juga dengan malam-malam berikutnya. Karena ternyata aku berkelebihan, dan tak pernah kekurangan.

Wednesday, April 30

KOPI YANG BAIK

CICI :
Untuk ngetes kopi yang baek, taruh sendoknya di atas busa kopinya.

Kalo sendoknya ngambang, berarti brewing-nya bagus. Seperti kopi di depan gw ini….
*menaruh sendok di atas busa kopinya, sendoknya tak tenggelam di balik busa*
Kopi ini ok juga.

PINKO :
Mmmmm….
*mengangguk-angguk tanda baru mengerti*

ODIT :
Naaah, kalo mo ngetes cowok-cowok yang baek? Taro di hati loe, kalo ngambang…
Justru berarti nggak baek!!!
*giving a big naughty smile*

PINKO&CICI :
hwaaaaaaaaaaaaaaa…..gedubrakkkkkk!!!!!
*terpeleset, tersandung, tertabrak....hatinya*

PINKO :
*koma....dan mulai dapat 'penglihatan' dr masa lalu...masa skr...mungkin juga itu masa depan...
Dan mendapatkan kesimpulan....
”Mereka” tampaknya tidak mengambang….
”Mereka” timbul tenggelam?????*